Ditulis Oleh:  Rizqi  Ristanto (Mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam/ Difabel Netra)

COVID19 terus masih melanda Ibu Pertiwi. Segala aktifitas terhenti atau dihentikan. Bahkan ibadahpun kini dimaklumatkan untuk di rumah saja. Tak pelak dari maklumat ini, masjid banyak yang ditutup. Masjid hanya diperkenankan mengumandangkan adzan saja untuk penanda waktu shalat dan buka. Ya, ramadhan kini telah tiba. Bulan yang dinantikan umat islam dan bulan yang menjanjikan banyak pahala kebaikan. Namun ramadhan kali ini adalah ramadhan yang paling berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di mana banyak kegiatan yang sebelumnya sudah mengantre untuk dijalankan, kini hanya ndongkrok tinggal susunan tanggal berbalut cerita saja. Bukber batal, shalat tarawih taka da, tadarus bersama ditiadakan dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan ketika saya bertanya kepada Fajar Wahyu Nugroho, salah seorang anggota Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) Karanganyar mengenai kegiatan apa saja yang akan diadakan di ITMI Karanganyar selama Ramadhan, dengan menarik nafas panjang dia mengatakan kalau semua kegiatan itu dibatalkan. Kegiatan itu adalah buka bersama, shalat tarawih berjamaah dan pengajian. Dampak COVID19 ini amat luar biasa. Banyak yang terburu pulang sebelum tanggal 24 april yang lalu, karena batas terakhir untuk pulkam atau mudik adalah tanggal tersebut. Karena terburu pulkam, para difabel netra tidak sempat membawa qur’an braille. Lagipula qur’an braille terlalu besar dan cukup menyusahkan bila dibawa. Karena satu buku mushaf al-qur’an braille adalah satu juz. Jadi kalau mau 30juz, ya 30buku. Padahal membawa barangnya sendiri saja sudah payah. Hal inilah yang menyebabkan para difabel netra yang tak memiliki al-qur’an braille di rumahnya kesulitan untuk mengaji. Sayapun kemudian bertanya kepada teman-teman netra di Yayasan Kesejahteraan Anak Buta (YKAB).

Saya dalam kesempatan ini dapat mewawancarai Muhammad Sobirin dan Saiful Solimi. Kepada saya yang dari solider.id ini, mereka berdua mengatakan kepada saya kalau perasaan mereka teramat sedih karena tidak bisa mengaji al-qur’an di rumah. Mau membawa meski beberapa juz saja, tapi tas gak muat. Mau dikirim terpisah, ongkir terlalu mahal. “Saya teramat bingung mas gimana mau ngaji. Mau ikut ke masjid buat tadarusan bareng atau hanya sekedar mendengarkan saja, eh masjid malah ditutup. Hehe meskipun masjid gak ditutup, tapi saya gak hapal banyak surah dalam qur’an. Saya Cuma bisa berharap, semoga Allah mau mengerti keadaan saya, dan ramadhan ini tetap dicatatkan amal kebaikan buat saya.” Ujar Saiful Solimi kepada saya sembari menahan airmatanya yang hendak tumpah. Dipihak lain, Muhammad Sobirin mengatakan kalau dirinya sebenarnya juga sangat sedih. “Gimana ya mas, sebenarnya pingin bawa qur’an, tapi susah banget mas. Aku juga gak nyangka bakal kayak gini jadinya. Corona memang membuat semuanya jadi sial! Padahal aku piker nanti kita dapat ramadhanan di YKAB, seperti tahun-tahun sebelumnya. Ya Allah malah kayak gini jadinya. Sekarang aku Cuma bisa dengarin murotal al-qur’an aja mas. Kalau masjid di rumahku Alhamdulillah nggak ditutup, tapi aku kesusahan kalau ikut tadarusan, soalnya aku gak hapal qur’an, dan aku gak bisa nyimak mereka. Ya aku cuman bisa berharap, semoga COVID19 ini segera berlalu, dan semoga Cuma ramadhan ini saja kita yang seperti ini.” Ujar Sobirin dengan suara sedih bercampur bingung. Di tempat lain, sayapun bertemu dengan mahasiswa IAIN bernama Riztan Riztan ini adalah seorang mahasiswa semester akhir jurusan Sejarah Peradaban Islam. Dia kini terjebak di kosan dekat kampusnya dan tak bisa pulkam. Ditemui oleh saya dari solider.id, Riztan mengatakan kalau dirinya kini juga tak dapat mengaji dengan qur’an braille, karena di kosannya dia tidak punya. “Awalnya sih pernah minjam YKAB mas, tapi udah aku kembaliin. Soalnya waktu itu aku gak mikir kalau bakal ada COVID19 kayak gini. Lagipula biasanyakan aku juga tadarusan bareng di YKAB, dan pikirku nanti aku sambil tadarusan, aku minjam beberapa mushaf untuk aku bawa ke kosan. Eh malah kayak gini mas. Aku cuman bisa berharap semoga COVID19 ini segera pergi, dan cukuplah sekali ini saja ALLAH menimpakan bencana yang amat pedih ini.” Ujar Riztan dengan menitikan airmata.

Dampak COVID19 memang luar biasa. Di samping ekonomi orang-orang pada kolaps, difabel netra kini hanya bisa menahan keinginannya untuk memperbanyak pahala membaca qur’an dibulan ramadhan. Sangat beruntung bagi teman-teman netra yang memiliki qur’an braille di rumahnya, karena mereka tetap bisa mengaji seperti biasanya. Keberuntungan ini dialami oleh Sahrul, Adib Fajar dan beberapa teman YKAB lainnya.

======= (WM/MSI)======

Tulisan tersebut juga telah dimuat di https://www.solider.id/baca/5914-tak-bisa-bawa-pulang-mushaf-alquran-braille-difabel-netra-sulit-tadarus dengan judul Tak Bisa Bawa Pulang Mushaf Al-qur’an Braille, Difabel Netra Sulit Tadarusdengan beberapa perubahan dari Editor.