IMG_6711

IAIN Surakarta – Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Surakarta menyelenggarakan kuliah umum pada Kamis (21/7) bertempat di gedung Graha Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dengan mengambil tema “ Women in Power in the Perspectivites of Abrahamic Religius” yang dihadiri oleh mahasiswa Sastra Inggris seluruh angkatan. Pada kesempatan kali ini hadir sebagai narasumber Nur Asiyah, dosen IAIN Surakarta dan Maria Lichtmann salah satu dosen dari Appalachian State University, USA. Terlihat pula hadir dalam kuliah umum, Ketua Jurusan Sastra Inggris dan beberapa dosen.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. H. Abdul Matin Bin Salman, Lc., M.Ag. Beliau menyampaikan bahwa dalam perkembangannya, Jurusan Sastra Inggris sudah banyak berkembang dalam hal mengasah kemampuan dan kreatifitas mahasiswa, “Saya berharap kedepan mahasiswa bertambah dari segi ilmunya yang nantinya diharapkan banyak memiliki karya,” ungkapnya dalam sambutannya.

Nur Asiyah selaku narasumber membawakan materi Diaspora of Muslim Women Identity yang mana  umat Islam yang hijrah ke Barat meninggalkan tanah airnya demi kehidupan yang lebih baik di Eropa, Amerika, Australia, dan belahan dunia lainnya. Ketika di Barat, mereka berusaha membangun kembali identitasnya, Islam mereka. Pada langkah pertama, mereka mengingatkan diri mereka serta keluarga mereka bahwa mereka telah memiliki sebuah identitas dan karenanya Islam menjadi pilar penting identitas mereka.

Mereka bahu-membahu membangun masjid dan sekolah untuk melindungi sisa-sisa identitas masa lalu dari kepunahan. Setelah mereka membangun identitasnya dan merasa kuat, mereka mulai memperkenalkan diri mereka kepada orang lain. Pola diaspora sebenarnya merupakan konsep yang juga berakar dari khazanah peradaban Islam. Konsep ini berawal ketika Nabi Muhammad SAW. hijrah dari Makkah ke Madinah. Di Madinah, Nabi Muhammad membangun komunitas migran.

Selain itu, Maria Lichtmann juga membawakan materi  What the Christian Mystics Can Teach Us Today” yaitu ajaran mistik Kristen. Kata “mistik” sendiri berasal dari kata kerja Yunani yang berarti menutup diri, menutup mata. Para mistikus tampak begitu terpusat pada Allah hingga mereka tampaknya nyaris tak melihat yang lainnya. Sebagian mistikus meninggalkan tulisan-tulisan rohani dan catatan-catatan akan penglihatan, tetapi banyak yang tak meninggalkan tulisan; tanpa catatan penglihatan sama sekali. Ini karena mistisisme bukanlah mengenai penglihatan-penglihatan melainkan menghampiri Allah.

Meski para mistikus dapat bersikap menarik diri, namun sebagian hidup dalam dunia. Brigitta dari Swedia, misalnya, yang adalah alat ampuh bagi reformasi Gereja pada abad ke-14, mendakwa para paus, uskup, imam dan para penguasa sekulir sebagai penyebab penderitaan Yesus dan Gereja-Nya dengan penyalahgunaan wewenang mereka. Teguran-teguran keras perempuan bangsawan Swedia ini kerap didapatkan pada waktu meditasi sengsara Yesus, yang ia lukis dalam guratan-guratan kuas yang tajam dengan maksud mengguncang para pendengarnya yang lalai.

Selama berabad-abad, gambaran rinci kisah-kisah Injil oleh para mistikus telah memperlengkapi para seniman, penulis dan pengarang dengan berlimpah bahan dalam menyajikan misteri-misteri Kristiani. Para seniman dan penulis dari abad pertengahan secara istimewa berpaling kepada mereka dalam menggambarkan hidup Yesus, khususnya sengsara dan wafat-Nya. Para mistikus telah membantu membentuk imaginasi Kristen, pula banyak praktek devosional Kristiani. (mgMush/fitk)